Senin, 15 Maret 2010

Ikhlas

MAKNA KATA

 I K H L A S

 

Kata iklhas sering diginakan sebagai penguat bathin kala seseorang tidak

Berdaya menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya. Pertanyaannya

Apakah iklhas itu memang berkonotasi ketidakberdayaan?

  

            “SUDAHLAH, iklhaskan saja, sudah terlanjur hilang. “ begitu kita sering mendengar nasehat bijak seseorang agar teman atau saudaranya yang kehilangan sesuatu yang berharga tidak terus bermuram durja. “saya iklhas menerima cobaan ini. Mungkin itu yang terbaik buat saya.” Kalimat sejenis ini juga sering keluar dari orang yang sedang mengalami takdir yang tidak menjadi keinginannya.

             Dalam wacana ahli tasawuf, sebetulnya penggunaan kata ikhlas dalam dua kalimat diatas tidaklah tepat. Yang lebih pas adalah kata “ridha” atau lapang dada menerima takdir Allah, baik yang menyenangkan ataupun tidak. Namun kebiasaan kita dalam sehari-hari sering terjadi penggunaan kata iklhas di luar makna yang sesungguhnya.

             Dalam literature tasawuf, secara umum defenisi “ikhlas” adalah “berbuat taat semata-mata karena ingin dekat kepada Allah”. Inilah defenisi yang dikemukakan oleh, antara lain, al-ghazali, Ibnu rajab al-hambali, Ibnul Qayyim dan syaikh Zainuddin al-Ma’bari.

             Dari defenisi ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa Islam mempersyaratkan tiga hal. Pertama, perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan taat. Bukan perbuatan ma’syiat, salah dan tercela. Kedua, ada kesengajaan niat. Bukan perbuatan yang asal-asalan dan dilakukan sembarangan. Ketiga, semata-mata karena Allah. Bukan karena ingin di puji, takut dicaci, atau ada motif yang bersifat duniawi.

             Nah, dengan demikian, tidak semua perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi bisa disebut iklhas. Atau sebaliknya yang dilakukan didepan orang banyak bukan iklhas. Ukuran ikhlas bukanlah itu. Orang mencuri melakukan secara sembunyi-sembunyi. Tapi itu bukanlah iklhas, karena perbuatannya sendiri itu dosa. Sebaliknya orang yang bersedekah lalu nama dan jumlah sumbangannya ditulis dan diumumkan di depan orang banyak tidak serta merta bisa disebut tidak iklhas. Sebab sedekahnya sendiri perbuatan taat. Tinggal maksud hatinya, apakah tujuannya pamer, ingin dipuji sebagai sidermawan, atau melakukan itu karena Allah. Jika ia melakukan itu semata-mata karena Allah, ia adalah orang ikhlas. Sebaliknya orang yang bersedekah secara diam-diam dengan maksud agar ia dianggap orang ikhlas, ia sebetulnya bukan orang ikhlas.

             Tidak jarang pula kata ikhlas digunakan untuk menutupi kekikiran atau kemalasan. Misalnya dengan berkata, “Biar sedikit yang pentingkan ikhlas. Dari pada banyak tapi tidak ikhlas”. Kalimat ini bisa memperdayakan. Sepertinya benar, tapi maksud sesungguhnya tidak. Bagaimana bisa benar kalau kata-kata itu hanya digunakan sebagai alasan atas kekikiran atau kemalasan kita. Kita sesungguhnya sangat mampu memberi seribu rupiah untuk sebuah kebaikan yang layak kita bantu. Tapi kita berikan hanya seratus rupiah karena kekikiran kita, lalu berdalih dengan kata “yang penting ikhlas”. Atau kita sebetulnya mampu melakukan ibadah lebih banyak, tapi karena malas, kita berdalih “ yang ringan sajalah, yang penting ikhlas”.

             Jelas, dalih-dalih seperti ini tidak tepat karena ikhlas yang ditujukan kepada Allah semestinya menuntun seorang hamba untuk berbuat maksimal dalam beramal. Jika untuk kekasih hati saja kita berusaha memberikan yang terbaik, kenapa untuk Allah kita berikan yang asal jadi?

             Ikhlas, dengan demikian tidak hanya menuntut kesadaran berbuat taat karena Allah, tapi juga kemauan untuk berbuat yang terbaik dalam melakukan ketaatan itu. Jelaslah bahwa ikhlas adalah sebuah kata yang tidak menunjukkan kepasifan dan ketidakberdayaan. Sebaliknya ikhlas adalah kata yang secara aktif mendorong manusia untuk berbuat yang terbaik semata-mata karena Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar